garis1

afc-champions-league

Hasil AFC Champions League 2009 klub Sriwijaya FC sebagai wakil satu-satunya dari Indonesia sangat menyedihkan. Pertandingan pertama 10 Maret 2009 diawali dengan kekalahan dikandang sendiri yaitu Sriwijaya FC 2-4 Seoul FC  dan ke 2 yaitu tanggal 17 Maret 2009 Shandong Luneng 5-0 Sriwijaya FC.

Hmm padahal katanya Indonesia ini memiliki kompetisi dengan grade B dan cuma beda satu peringkat dengan A League di Australia. Lho ko hasilnya seperti itu. Lalu pada grade berapa dong sebenarnya kompetisi di Indonesia ?


Saya tidak tahu mesti bicara apa lagi. Kembali dan kembali Klub bahkan Timnas Indonesia mengulangi kesalahan yang sama ketika berhadapan dengan Negara Asia Timur ataupun Arab. Mental dan Stamina benar-benar bermasalah.

Apa kita tidak ada evaluasi atau bagaimana…bingung ko kalah telak melulu. Hasil AFC Champions League tahun-tahun sebelumnya pun begitu. Bahkan lebih telak lagi.

Sebenarnya kesalahan fundamental dari Sriwijaya FC ini mungkin kesalahan rata-rata atau keseluruhan dari sebuah tim sepakbola dari Indonesia.

Mexico sebenarnya memiliki postur tubuh yang kecil, sama seperti Indonesia. Negara Afrika seperti Ethiopia yang selalu memiliki masalah KELAPARAN bahkan memiliki peringkat FIFA pada rangking 101, Indonesia di rangking 137 (April 2009). Lalu kenapa Ethiopia yang saya yakin kurang memiliki infrastruktur dan sarana yang baik bisa berprestasi seperti itu.

Apakah tim dari Indonesia yang selalu melihat kekurangannya ataukah kita tidak bisa memanfaatkan apa yang kita miliki sebagai potensi ? Aneh memang kemerosotan bahkan tertinggalnya sepakbola Indonesia bukan cuma di Asia bahkan di Asia Tenggara kita selalu kalah melawan Thailand, Singapura ataupun Vietnam. Kondisi ini juga ditunjukan dari peringkat FIFA negara-negara tersebut yang berada diatas Indonesia.

Jadi Aneh lagi-lagi Aneh ketika Ketua Umum PSSI Nurdin Halid berkata Timnas sekarang lebih memiliki mental juara. Lho ko kalah lawan Thailand, Singapura dan Vietnam maksudnya apa ? Juara pun karena lawannya mogok main di Piala Kemerdekaan. Apa ini stagnasi bahkan Mandekisasi Prestasi ?

Sama ketika Miroslav Janu melatih Arema. Saya bukan anti pelatih ini dan itu, tapi sebelumnya Arema Malang adalah Juara Copa Indonesia 2 kali berturut-turut. Lalu Miroslav Janu datang dan pada pertengahan kompetisi Target Juara diralat habis-habisan. Aneh ya kalau manager dan pelatih sebuah klub tidak bisa mentarget hasil lebih baik dari sebelumnya ya untuk apa dia dikontrak ?

Kondisi serupa pun terjadi di PSSI, kemerosotan Timnas Indonesia menunjukan apa toh ?

Apa sih yang harus dievaluasi ? Jangan cuma bisa berbicara tuan rumah Piala Dunia. Coba lah yang lebih bermartabat membangkitkan Sepakbola Indonesia.

Sedih rasanya kalau keadaan seperti ini terus…
Bukannya saya pesimis. Tapi yang mengurus Timnas dan Sepakbola di Indonesia sepertinya yang pesimis dengan usaha meningkatkan Prestasi dan Prestasi Sepakbola kita. Bahkan ketika hendak bertanding melawan Thailand, Pelatih Timnas berbicara Indonesia seperti menghadapi Tsunami …Wah ini sih yang menurunkan Mental dan Semangat pemainnya dong Pak !

Saya yakin Sepakbola Indonesia bisa berbicara di tingkat Asia bahkan dunia !

Suporter Pendukung Setia Timnas dan Klub Indonesia saya yakin sudah memberikan segalanya. Siapa yang tak kenal semangat Suporter Fanatik Indonesia ?

Lalu siapa yang belum berbuat lebih terhadap Sepakbola Indonesia ?
Lalu kapan peringkat FIFA negara Indonesia berada pada jajaran lebih terhormat yaitu 50 besar dunia ?
Lalu kapan Indonesia bisa memenangkan kejuaraan di luar negeri ?

Sedikit Realistis
Tapi Maaf bukan seperti ini caranya !
Harus ada perubahan !

Advertisements

  1. ay0o. . . ! bung ikrar aja dehh yang jadi pemainnya, ntar nisa s0rakin dari tribun terdepan, arema. . arema. . .

    iya, ya.. kemerosotan prestasi ya,,

    hmm… *mikir*

  2. ya betul memang harus ada perubahan….
    dan saya juga ada usul tuk klub2 ISL, knapa ga beli pemain timnas dari asia tenggara seperti thailand, vietnam, singapura,malaysia,dll, padahal banyak yg memiliki talenta yg lebih baik dari pemain asing yg ada di klub ISL.
    malah di beberapa pertandingan yg saya lihat ,sering kali pemain asing yg di miliki klub saat ini mainnya kurang bagus kadang ga profesional,malahan lebih bagus dari pemain lokal…

  3. sebenernya niat membeli pemaen Asean udah ada selain menambah daya tarik Indonesia Super League juga harga pemaen lebih murah dibanding dari negara diluar Asean.

    tapi kayanya untuk pemaen timnas Thailand jarang yang mau bermain di Indonesia karena kurang bisa dipantau untuk masuk timnas Thailand. alasan itu yang menyebabkan Khosin H, kiper Persib dari Thailand memutuskan kembali ke negara asalnya. sekalipun bayaran lebih murah.

    tapi ga tau juga apa aturan 3+2 untuk pemaen asing dari negara di Asia jadi diberlakukan di Indonesia. Masalahnya negara yang sepakbola nya lebih baik dari Indonesia berpikir untuk bermain dengan kualitas Liga dibawah standar Kompetisi negaranya dan gaji yang lebih tinggi.

    Mungkin sulit untuk negara2 seperti Jepang, Korsel, China, Arab Saudi, Iran, Qatar, Singapura dll. Peluang sebenernya terdapat pada negara yang memiliki pemaen berkualitas dengan kompetisi sepakbola yang berada dibawah standar Liga Indonesia seperti India, Myanmar, Maladewa, Irak dll.




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: